Pernah nggak kamu lagi asyik scrolling Instagram, lalu melihat adik kelas angkatan 2000-an sudah pamer foto buku nikah, sementara kamu yang kelahiran 1995 sampai 1998 masih sibuk revisi laporan, mengejar promo tiket pesawat, atau malah masih bingung mau makan siang apa?
Fenomena ini nyata. Banyak anak kelahiran 2000-an yang memutuskan menikah muda, sementara kakak-kakak tingkatnya di usia 25-29 tahun justru masih betah dengan status single atau pacaran lama tanpa buru-buru ke pelaminan.
Sebelum bahas lebih jauh, mungkin kamu asing dengan sebutan ini. Orang-orang kelahiran 1995-1999 sering disebut sebagai Zillennial.
Nama ini adalah gabungan dari Millennial dan Gen Z. Mereka adalah "generasi transisi" yang berada di tengah-tengah. Mau dibilang Millennial, tapi nggak terlalu relate dengan tren lama. Mau dibilang Gen Z, tapi mereka masih ingat rasanya main HP Nokia dan dengerin radio. Karena berada di persimpangan zaman, cara mereka melihat hidup dan pernikahan pun jadi sangat unik.
Secara psikologis dan sosiologis, ada alasan logis kenapa para Zillennial ini lebih memilih fokus berkarir atau berpetualang:
Karena fokus pada karier dan petualangan, para Zillennials ini biasanya punya standar kencan yang berbeda. Mereka sudah bosan dengan dinner cantik yang ujung-ujungnya hanya berisi pertanyaan interview kerja: "Kesibukannya apa?" atau "Rencana 5 tahun ke depan apa?". Hasilnya? Awkward silence. Suasana jadi kaku dan malah bikin makin malas buat cari pasangan.
Kalau kamu ingin kencan yang low pressure tapi tetap berkesan (dan bisa sambil "menilai" calon pasangan), ajak dia ke NAV Karaoke. Kenapa? Karena karaoke adalah stress test paling menyenangkan untuk melihat karakter asli seseorang:
Kesimpulannya? Mau kamu tim nikah cepat atau tim kejar karier dulu, yang penting adalah kualitas hubungan yang kamu jalani. Daripada terjebak dalam kencan yang membosankan, lebih baik ciptakan momen yang bikin kalian tertawa lepas.
Siapa tahu, dari duet lagu romantis, kalian jadi kepikiran buat bikin "konser" bareng selamanya!
Informasi lebih lanjut:
Website: https://nav.co.id/
Instagram: [@navkaraoke]
TikTok: [@official.navkaraoke]
Pernah nggak kamu lagi asyik scrolling Instagram, lalu melihat adik kelas angkatan 2000-an sudah pamer foto buku nikah, sementara kamu yang kelahiran 1995 sampai 1998 masih sibuk revisi laporan, mengejar promo tiket pesawat, atau malah masih bingung mau makan siang apa?
Beberapa waktu terakhir, berita tentang harga emas yang terus merangkak naik ramai dibicarakan di mana-mana. Timeline media sosial penuh dengan update harga, antrean di butik emas, sampai obrolan soal "mending beli sekarang atau nanti?". Buat banyak anak muda, situasi ini bisa terasa membingungkan. Di satu sisi ingin ikut investasi, di sisi lain takut salah langkah dan malah bikin keuangan berantakan. Padahal, kenaikan harga emas justru bisa jadi momen yang tepat untuk mulai lebih sadar mengatur finansial, bukan panik.
Hujan seolah tak mau berhenti belakangan ini. Hampir setiap hari langit mendung, jalanan basah, dan beberapa wilayah, termasuk Jakarta, bahkan kembali dilanda banjir. Aktivitas di luar rumah jadi serba terbatas, rencana banyak yang tertunda, dan sebagian dari kita mulai merasa jenuh terjebak di dalam ruangan.
Pernah nggak kamu sadar, makin dewasa justru makin jarang benar-benar bertemu teman? Dulu bisa nongkrong hampir tiap minggu, sekarang sekadar chat "kapan ketemu?" saja sudah terasa sulit. Atau mungkin interaksi kamu dengan sahabat sekarang terbatas pada saling balas Story Instagram atau sekadar ucapan ulang tahun di chat? Pertemanan yang dulu hangat, pelan-pelan terasa menjauh tanpa kita sadari. Fenomena ini sering disebut sebagai Friendship Recession. Seiring bertambahnya usia, prioritas kita bergeser ke karier, pasangan, hingga keluarga. Waktu luang menjadi barang mewah, dan rasa "mager" (malas gerak) setelah bekerja seringkali menang melawan keinginan untuk bersosialisasi.
Belakangan ini, novel Broken String karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan. Lewat buku memoar tersebut, Aurelie membagikan perjalanan hidupnya dengan jujur dan berani - bukan dengan teriakan, melainkan melalui tulisan yang tenang dan reflektif. Tanpa mengangkat sensasi, kisah ini mengingatkan kita bahwa kekuatan perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras, tetapi juga dalam keberanian untuk bertahan, mengenali diri, dan memilih untuk pulih. Di luar cerita siapa pun, satu hal menjadi semakin relevan: pentingnya kesadaran dan rasa aman bagi perempuan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.